Bekraf dan Kominfo Berlomba-lomba Wadahi Pendanaan Startup Lokal

Startup digital selama ini kerap kesulitan mengembangkan bisnis karena masalah permodalan. Mereka tak punya akses pinjaman ke perbankan karena institusi keuangan masih sulit mengalkulasi kemampuan pengembalian di kemudian hari.

Padahal, menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, ada banyak ide-ide startup lokal yang potensial dan solutif sehingga harus didukung. Masalahnya, Bekraf sebagai institusi pemerintah belum bisa menghimpun atau memberikan dana secara langsung.

Untuk itu, Bekraf membuat program yang dinamai Dana Ekonomi Kreatif (Dekraf). Program ini bakal memediasi pelaku startup dengan perbankan agar lebih mudah menerima pinjaman.

“Tahun ini kami targetkan Rp 500 miliar pinjaman berbentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dialokasikan ke pelaku ekonomi kreatif (yang salah satunya startup digital),” kata Triawan usai acara Line Creativate di Mall Gandaria City, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Lebih detil, program Dekraf memiliki empat skema mediasi pendanaan untuk startup lokal. Selain skema pinjaman bank, ada juga skema hibah, venture capital, dan skema masyarakat dari crowdfunding seperti pasar modal dan filantropi.

Intinya, Bekraf di sini berperan sebagai mediator antara startup yang butuh dana dengan institusi, kelompok, atau individu yang bersedia memberi atau meminjamkan dana.

“Kami sebenarnya lebih suka kalau nanti ada regulasi pendanaan langsung dari Bekraf untuk startup tanpa harus ada pengembalian. Kalau startup-nya gagal, itu risiko. Tapi untuk ke situ tentu ada prosedur yang harus dilewati, harus banyak diskusi,” ia menjelaskan.

Bisa saja pakai dana USO

Selain Bekraf, bantuan pendanaan untuk startup juga digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kominfo Rudiantara menegaskan rencananya untuk mengalokasikan sebagian dana Universal Service Obligation (USO) untuk membantu modal startup.

USO sendiri merupakan dana yang ditarik dari pendapatan usaha para operator telekomunikasi sebesar 1,25 persen tiap tahunnya. Rata-rata dana USO yang dihimpun tiap tahun pun berkisar Rp 2 triliun.

Selama ini dana itu dialokasikan untuk membangun infrastruktur di daerah pelosok. Rudiantara menilai dana sebesar itu perlu pula digelontorkan untuk pengembangan startup.

“Kami masih menghitung porsi yang mungkin dialirkan dari dana USO untuk pendanaan startup,” kata menteri yang kerap disapa RA.

Menurut dia, tak ada salahnya jika masing-masing institusi pemerintah punya program berbeda untuk membantu startup lokal. Justru hal itu dianggap bagus agar para pelaku startup semakin termotivasi.

“Saya sama Pak Triawan justru saling update untuk bantuan ke startup. Nggak apa-apa kita semua punya program masing-masing supaya anak-anak muda yang bikin startup merasa memang didukung semua pihak,” ia menuturkan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s